Rabu, 18 April 2012

Mercusuar-Mercusuar di Perairan Bangka Belitung (Kajian Pendahuluan)


Pendahuluan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini secara umum terdiri dari dua pulau besar yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil yang mengelilingi kedua pulau tersebut.  Luas perairan secara keseluruhan adalah 65.301 km2. Letak geografis Kepulauan Bangka Belitung berada di antara dua lautan besar, yaitu Laut Natuna dan Laut Cina Selatan di bagian utara dan Laut Jawa di bagian selatan. Sedangkan di bagian barat terdapat Selat Bangka yang memisahkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera serta di bagian timur terdapat Selat Karimata yang memisahkannya dengan Pulau Kalimantan. Di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung dipisahkan oleh Selat Gelasa.

Penelitian sumberdaya arkeologi di Kepulauan Bangka Belitung oleh Balai Arkeologi Palembang telah dilaksanakan sejak tahun 1993. Secara umum kegiatan penelitian yang telah dilakukan di Kepulauan Bangka Belitung baru mencakup wilayah di Pulau Bangka dan Pulau Belitung saja, padahal kedua pulau tersebut hanyalah dua buah pulau besar yang dimiliki oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada kenyataannya provinsi ini memiliki pulau-pulau kecil yang mengelilingi Pulau Bangka dan Pulau Belitung yang tersebar di perairan wilayah ini.

Sebagai kepulauan yang terletak di jalur perdagangan maritim yang cukup ramai, perairan  Bangka Belitung merupakan jalur perlintasan kapal-kapal dagang yang berlayar dari arah Selat Malaka maupun Laut Cina Selatan menuju kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan hingga kawasan timur nusantara. Demikian juga sebaliknya ketika kapal-kapal tersebut berlayar kembali ke Selat Malaka atau Laut Cina Selatan, mereka akan melintasi perairan tersebut.

Berdasarkan data sejarah, diketahui bahwa perairan di wilayah Bangka Belitung merupakan jalur perdagangan maritim pada abad 15 M. Meskipun demikian berdasarkan analisis terhadap temuan keramik dari situs kapal tenggelam di perairan Bangka Belitung menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi jalur perdagangan maritim sejak masa yang lebih tua, yaitu abad 9 M. Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Direktorat Peninggalan Bawah Air diketahui juga bahwa lokasi kapal tenggelam tersebar di seluruh perairan Bangka Belitung. Hal ini dapat dikaitkan dengan banyaknya gosong karang di perairan ini, yang merupakan salah satu penyebab kapal tenggelam.

Banyaknya gosong karang di perairan Bangka Belitung antara lain tercatat dalam ‘roteiros’, yaitu laporan-laporan pelayaran yang ditulis oleh pelaut Portugis yang berasal dari abad ke 16 M. Dalam laporan tersebut digambarkan bahwa perairan Selat Bangka yang lebih dekat dengan Pulau Sumatera cenderung lebih dangkal dan berlumpur sedangkan perairan yang mendekati Pulau Bangka banyak terdapat gosong karang (Manguin 1984) Selain itu dalam buku Direction for Sailing to The East Indies yang ditulis oleh James Horsburgh pada tahun 1848, diberitakan bahwa Junk Cina bernama Tek Sing yang berlayar dari Amoy pada tanggal 14 Januari 1822 menuju Batavia tenggelam di dekat Karang Belvidere di perairan Selat Gelasa karena menabrak karang (Pickford dan Hatcher 2000: 6).

Pada awalnya pelaut-pelaut masa lalu ketika melintasi kawasan perairan Bangka Beliutng memanfaatkan bentang alam sebagai rambu-rambu naviagasinya, dalam perkembangan berikutnya pada akhir abad 19 M bentang alam tersebut mulai digantikan oleh mercusuar. Dalam tulisan ini akan dikaji keberadaan mercusuar-mercusuar di wilayah perairan Bangka Belitung berkaitan dengan posisi Bangka Belitung sebagai jalur perlintasan perdagangan maritim di nusantara.

Mercusuar-Mercusuar di Perairan Bangka Belitung

Berdasarkan studi kepustakaan, terdapat 11 buah mercusuar yang tersebar di perairan Bangka Belitung yang didirikan pada masa kolonial Hindia-Belanda. Balai Arkeologi Palembang sendiri baru meneliti 2 buah mercusuar, yaitu mercusuar Tanjungkelian, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat dan Pulau Lengkuas, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung; sedangkan mercusuar Pulau Pelepas, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah baru dilakukan peninjauan.

1.  Tanjung Kelian

Secara administrasi terletak di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Mercusuar Tanjung Kelian berfungsi untuk menandakan bahwa kapal-kapal yang berlayar dari arah utara telah memasuki Selat Bangka. Mercusuar ini terletak di sebuah tanjung yang berhadapan langsung dengan muara Sungai Musi, berjarak sekitar 6 km sebelah barat daya Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Didirikan pada tahun 1862 dan memiliki denah lingkaran terbuat dari bahan bata. Bangunan mercusuar berwarna putih pada bagian tubuhnya dan merah di bagian puncaknya. Bidang fokus mercusuar Tanjung kelian berjarak 38 m. Secara umum mercusuar setinggi 56 m ini merupakan bagian dari kelompok bangunan yang dikelilingi oleh pagar tembok yang berdenah segi lima. Bangunan-bangunan yang menyertai mercusuar tersebut merupakan bangunan penunjang yang berfungsi sebagai kantor dan tempat tinggal dengan segala kelengkapannya. 

2.  Pulau Pelepas

Mercusuar Pulau Pelepas terletak di wilayah administrasi Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah. Berfungsi untuk memandu kapal-kapal untuk berbelok ke kanan ketika melintas di Selat Bangka menuju Laut Jawa. Mercusuar ini terletak di sebuah pulau yang berada di bagian timur selat. Tahun pendirian mercusuar ini tidak diketahui tetapi pada dinding mercusuar terdapat prasasti perbaikan mercusuar yang berangka tahun 1893 Bangunan mercusuar memiliki denah segi 12 terbuat dari bahan logam. Keseluruhan bangunan berwarna putih dengan bidang fokus sejauh 66 m. Pada bagian atas pintu masuk mercusuar terdapat prasasti yang bertuliskan: 
Onder  de regeering van
H.M. KONINGIN WILHEMINA
Gedurende het regentschap van
H.M. KONINGIN EMMA
Opgericht voor draailicht
Eerste groote
1893
Secara umum mercusuar ini merupakan bagian dari kelompok bangunan yang berfungsi sebagai kantor dan tempat tinggal dengan segala kelengkapannya dan dikelilingi oleh pagar tembok.

3.  Pulau Besar


Mercusuar Pulau Besar secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Selatan. Terletak di sebuah pulau yang berseberangan dengan sebuah tanjung sekitar 3 km sebelah tenggara Desa Betumpang. Mercusuar ini berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang melintasi bagian sempit dari Selat Bangka. Didirikan pada tahun 1889 dan berdenah segi delapan. Bentuk umum mercusuar ini berupa rangka besi yang berwarna putih. Bidang fokus mercusuar berjarak 61 m.






4.  Pulau Maspari (Lucipara)

Terletak di sebuah pulau yang berjarak sekitar 15 km dari Tanjung Kait, Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan. Mercusuar ini berfungsi untuk menandakan bahwa kapal-kapal telah memasuki Laut Jawa atau sebaliknya sebagai penanda bahwa kapal-kapal yang berlayar dari Laut Jawa telah memasuki Selat Bangka. Masa pendiriannya tidak diketahui, berupa rangka besi yang berwarna putih. Bidang fokus mercusuar berjarak 40 m.

5.  Pulau Celata (Celaka)

Secara administrasi terletak di wilayah Kabupaten Bangka Selatan. Mercusuar Pulau Celata berfungsi memandu kapal-kapal yang melintas di Selat Gelasa. Masa pendirian mercusuar tidak diketahui, bidang fokus berjarak 32 m.

6.  Tanjung Berikat

Mercusuar ini terletak di wilayah administrasi Kabupaten Bangka Tengah. Secara geografis terletak di sebuah tanjung dan berfungsi sebagai menandakan bahwa kapal-kapal yang berlayar dari arah utara telah memasuki Selat Gelasa. Masa pendirian mercusuar tidak diketahui. Terbuat dari bahan logam berwarna putih dan memiliki bidang fokus sejauh 46 m.

7.  Pulau Penyusuk

Terletak di wilayah administrasi Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Secara geografis terletak di sebuah pulau di seberang tanjung di perairan Teluk Klabat. Masa pendirian tidak diketahui, berupa rangka besi berwarna putih dengan bidang fokus berjarak 36 m.









8.  Pulau Lengkuas

Secara adminstrasi terletak di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Mercusuar ini berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang melintasi Selat Karimata. Didirikan pada tahun 1882, berdenah lingkaran dan terbuat dari bahan logam dengan warna putih. Mercusuar Pulau Lengkuas memiliki bidang fokus sejauh 61 m. Pada bagian atas pintu masuk terdapat prasasti yang bertuliskan:
Vervaa…
Door
L.I.EINTHOVEN & CO
Fabrikanten
..................
1882
Secara umum mercusuar ini merupakan bagian dari kelompok bangunan yang berfungsi sebagai kantor dan tempat tinggal dengan segala kelengkapannya dan dikelilingi oleh pagar tembok.

 
9.  Tanjung Air Lancur

Mercusuar Tanjung Air Lancur terletak di wilayah administrasi Kabupaten Belitung. Secara geografis terletak di Pulau Mendanau, di pantai barat Pulau Belitung. Mercusuar ini berfungsi untuk memandu kapal-kapal yang melintasi Selat Gelasa. Didirikan pada tahun 1882, berdenah lingkaran dan terbuat dari bahan logam. Keseluruhan bangunan berwarna putih. Mercusuar Tanjung Air Lancur memiliki bidang fokus sejauh 62 m.

10.  Pulau Pesemut

Secara geografis mercusuar Pulau Pesemut terletak di sebuah pulau yang berjarak sekitar 65 km sebelah timur laut Pulau Belitung. Mercusuar ini berfungsi memandu kapal-kapal yang melintasi Selat Karimata. Masa pendirian tidak diketahui. Bangunannya berupa rangka besi dan berwarna putih. Bidang fokus mercusuar Pulau pesemut berjarak 43 m.

11.   Pulau Semidang

Secara geografis mercusuar Pulau Semidang terletak di Laut Jawa dan berjarak 80 km sebelah tenggara Pulau Bangka atau 50 km sebelah barat daya Pulau Belitung. Mercusuar ini didirikan pada tahun 1883. Berupa bangunan yang berdenah segi 16, terbuat dari bahan logam dan berwarna putih. Bidang fokus menara ini berjarak 61 m.

Pembahasan

Berdasarkan kronologi pendiriannya, pembangunan mercusuar di perairan Bangka Belitung diperkirakan baru dimulai pada akhir abad ke 19 M. Sebelum adanya mercusuar, kapal-kapal yang melintasi perairan Bangka Belitung menggunakan bentang alam sebagai pemandu  seperti bukit, tanjung atau pulau kecil. Berita Cina Shun-feng hsiang-sung dari abad ke 15 M menjelaskan bahwa penanda kapal-kapal yang berlayar dari arah utara menuju Laut Jawa atau sebaliknya telah memasuki Selat Bangka adalah Bukit Menumbing, yang terletak di di sebuah tanjung di pantai barat Pulau Bangka (Wolters 1979). Dalam ‘roteiros’, selain menggambarkan kondisi Selat Bangka digambarkan juga tiga titik yang merupakan penanda jika kapal telah memasuki Selat Bangka, yaitu Bukit Menumbing, Pulau Nangka dan Tanjung Berani. Dalam catatan perjalanan Tome Pires (1512-1515) disebut juga Pulau Lucipara, yang terletak di bagian akhir selat Bangka, yang merupakan titik penanda untuk kapal-kapal yang berlayar menuju Kerajaan Sunda, Kepulauan Mandalika, Pelabuhan Jepara dan Kepulauan Maluku (Cortesao 1944:157).



Dalam perkembangan selanjutnya fungsi bentang alam tersebut digantikan oleh mercusuar. Secara umum mercusuar merupakan bagian dari navigasi laut. Dalam navigasi laut, mercusuar berfungsi sebagai rambu-rambu untuk menandai kondisi suatu wilayah perairan. Keberadaan mercusuar diperlukan untuk mengarahkan posisi kapal dengan mengikuti batas terluar dari cahaya lampu suar yang merupakan jarak aman dari karang atau tempat-tempat yang dangkal.


Kondisi wilayah perairan Bangka Belitung terutama di sekitar Selat Gelasa banyak terdapat gosong karang. Selain itu Selat Gelasa juga merupakan perairan yang sempit dan banyak terdapat pulau-pulau kecil sehingga di wilayah ini dibangun 4 buah mercusuar dengan jarak antar mercusuar relatif tidak terlalu jauh, yaitu mercusuar Pulau Semidang, Tanjung Air Lancur, Tanjung Berikat dan Pulau Celata. Selain gosong karang dan kawasan perairan yang sempit, mercusuar juga ditempatkan pada lokasi dimana sebuah kapal harus menentukan arah pelayarannya seperti mercusuar Pulau Pelepas. Mercusuar Pulau Pelepas dibangun untuk memandu kapal-kapal yang melintasi Selat Bangka agar berbelok ke kanan untuk menuju Laut Jawa atau sebaliknya dari arah Laut Jawa menuju Selat Malaka kapal-kapal harus berbelok ke kiri.

Penutup

Perairan Bangka Belitung telah menjadi jalur perdagangan maritim sejak abad 9 M. Kondisi perairan Bangka Belitung banyak terdapat gosong karang, perairan yang dangkal, celah-celah sempit dan pulau-pulau kecil ditambah dengan keterbatasan teknologi navigasi pelayaran menjadikan faktor pendukung terjadinya kecelakaan laut di wilayah ini. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bentang alam dimanfaatkan untuk rambu-rambu navigasi kapal-kapal yang  melintasi kawasan perairan ini hingga pada akhir abad 19 M fungsinya mulai digantikan oleh mercusuar.

Pada dasarnya arkeologi maritim mempelajari interaksi manusia dengan laut, danau dan sungai yang mencakup obyek kapal, muatan kapal, fasilitas yang ada di kawasan perairan dan masyarakat pendukung kebudayaan maritim (Mundardjito 2007: 9-13). Secara umum mercusuar merupakan salah satu bentuk fasilitas di kawasan perairan yang berfungsi sebagai sarana bantu navigasi pelayaran untuk membawa kapal dari suatu tempat ke tampat tujuan dengan aman dan efisien. Dengan demikian kajian mengenai mercusuar dapat menambah khasanah penelitian dalam pengembangan arkeologi maritim di Indonesia.

Daftar Pustaka

Cortesao, Armando, 1944, The Suma Orienta of Tome Pires: An Account of The East. London: Hakluyt Society.
Listiyani, 2008, “Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan di Kabupaten Belitung”, Relik No 06 September 2008.
Manguin, Piere Yves, 1984, “Garis Pantai Sumatra di Selat Bangka: Sebuah Bukti Baru Tentang Keadaan yang Permanen Pada Masa Sejarah”, Amerta no 8 hal. 17-23.
Mundardjito, 2007, “Paradigma dalam Arkeologi Maritim”, Wacana vol II no 1 April 2007: 1-20.
Pickford, Nigel dan Michael Hatcher, 2000, The Legacy of Tek Sing China’s Titanic- its Tragedy and its Treasure
Utomo, Bambang Budi (ed.), 2008, Kapal Karam abad ke 10 di Laut Jawa Utara Cirebon. Jakarta: Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berhatga Asal Muatan Kapal Tenggelam.
Wolters, OW, 1979, “A Note on Sungsang Village at The Estuary of The Musi River in Southeastern Sumatra: A Reconsideration of the Historical Gography of the Palembang Region”, Indonesia no 27 hal. 33-50
www.unc.edu  “Lighthouses of Sumatera” diakses tanggal 20 Agustus 2009


Tulisan ini telah diterbitkan dalam “Siddhayatra” Vol. 15 Nomor 1 Mei 2010 hal. 47-53 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar