Rabu, 18 April 2012

Tata Kota Muntok


1. Pendahuluan

Keberadaan Pulau Bangka pada umumnya secara geografis terletak di lintasan jalur perdagangan yang cukup ramai sejak masa lalu. Selain itu keletakan geografisnya secara politik merupakan “pintu gerbang” Kota Palembang. Keadaan ini kemudian ditunjang oleh  potensi sumberdaya alam berupa kandungan timah. Kenyataan-kenyataan tersebut merupakan faktor-faktor yang memungkinkan tumbuhnya pemukiman di wilayah ini, dari sebuah pemukiman yang sederhana menjadi sebuah kota yang merupakan pemukiman yang lebih kompleks.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pertumbuhan pemukiman di wilayah Bangka cenderung berkembang di daerah pantai. Tinggalan-tinggalan arkeologi yang berhasil didata pada saat itu tentunya masih sangat kurang dalam upaya penggambaran perkembangan pemukiman terutama masa Islam/Kolonial di wilayah ini. Berkaitan dengan hal itu maka penelitian kali diawali dengan mengkaji pola pemukiman di Kota Muntok dalam upaya mengetahui gambaran perkembangan pemukiman di Pulau Bangka serta kedudukannya dalam jalur perdagangan dan pelayaran di pantai timur Sumatera




2. Permasalahan

Tata kota adalah suatu pengaturan pemanfaatan ruang kota di mana terlihat fungsi kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduknya maupun kota itu sendiri. Identifikasi tinggalan arkeologi yang telah dilakukan pada penelitian menunjukkan tinggalan-tinggalan arkeologi masa Islam/Kolonial di wilayah Bangka merupakan komponen-komponen fisik kota. Dari persebaran tinggalan-tinggalan tersebut terlihat bahwa pemukiman di wilayah Bangka yang kemudian berkembang menjadi sebuah kota terletak di daerah pantai.

Letaknya yang berada di  daerah perlintasan jalur pelayaran antara Malaka, Jawa, dan wilayah Indonesia bagian timur sangat memungkinkan bagi tumbuhnya kota-kota di Bangka terutama Kota Muntok dari sebuah pemukiman yang sederhana menjadi pemukiman yang lebih kompleks, terlebih lagi pertumbuhan tersebut ditunjang oleh potensi sumberdaya alam daerah setempat yang sangat besar, yaitu timah. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian kali ini adalah bagaimana pola keruangan Kota Muntok serta hubungan antar bagian di kota tersebut?

3. Kerangka Pikir

Tumbuhnya sebuah kota di daerah pantai terutama didasari oleh fungsinya yang merupakan pusat-pusat pasar yang menghubungkan jaringan perdagangan laut (Rahardjo 1991: 49). Pernyataan ini dapat dikaitkan dengan keletakan geografis Kota Mentok yang merupakan daerah perlintasan jalur pelayaran antara Malaka, Jawa, dan wilayah Indonesia bagian timur.

Sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam, Pulau Bangka adalah daerah penghasil timah yang  merupakan salah satu komoditi dagang yang diperjualbelikan ke mancanegara. Pengelolaan pertambangan timah pada saat itu dapat dikatakan masih sederhana dan dikuasakan oleh  kelompok etnis Cina.

Sejalan dengan perkembangan waktu pemerintah kolonial Hindia-Belanda kemudian mengeplorasi tambang timah secara besar-besaran. Eksplorasi ini mengakibatkan migrasi besar-besaran orang-orang Cina ke Bangka. Hal ini juga berdampak dengan perkembangan Kota Mentok, dari sebuah kota pra kolonial menjadi sebuah kota kolonial dengan basis ekonomi pertambangan.

Kota merupakan salah satu organisasi sosial dari sekumpulan individu dalam jumlah yang cukup besar, sangat kompleks dengan berbagai strategi hidup yang kurang terikat lagi pada pertanian. Kompleksitas tersebut menunjukkan bahwa kota juga merupakan suatu pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Kompleksitas kota pada dasarnya menciptakan pengelompokan-pengelompokan penduduk dan pemukiman antara lain sesuai dengan asal-usul, latar belakang ekonomi dan status sosial. Penempatan kelompok-kelompok ini kemudian akan terlihat dalam tata ruang kota. Komponen-komponen kota pada tiap-tiap periode berbeda-beda, tergantung dengan kebutuhan masyarakat waktu itu. Sesuai dengan semakin berkembangnya sebuah kota maka komponen-komponen tersebut terwujud secara bertahap.

4. Sejarah Perkembangan Kota Muntok

Berdasarkan data sejarah, Muntok pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa itu di Muntok ditempatkan seorang Menteri Rangga. Kedudukan menteri itu sangat kuat, yaitu sebagai wakil sultan Alasan Sultan menempatkan seorang Menteri Rangga, karena Bangka dianggap wilayah yang penting bagi Kesultanan Palembang Darussalam, yaitu karena produk timahnya. Menteri Rangga pertama Muntok adalah Wan Usman atau Datu Aji Manteri Rangga Usman. Ia adalah seorang bangsawan Siantan yang pada masa itu merupakan daerah bawahan dari Kesultanan Johor.

Hubungan Kesultanan Johor dengan Kesultanan Palembang Darussalam diawali oleh konflik kekuasaan yang terjadi dalam tubuh Kesultanan Palembang Darussalam, yang mengakibatkan Pangeran Ratu Mahmud Badaruddin pergi meninggalkan Palembang menuju Johor. Di tempat barunya tersebut Pangeran Ratu Mahmud Badaruddin mempelajari sistem penambangan timah dikala itu dari proses produksi, sampai sistem pendistribusiannya.

Ketika Pangeran Ratu Mahmud Badaruddin ingin merebut kembali haknya sebagai penguasa Kesultanan Palembang Darussalam, ia membawa serta bangsawan Siantan yang bernama Wan Akub bin Wan Awang. Selanjutnya Pangeran Ratu Mahmud Badaruddin berhasil menjadi Sultan Palembang Darussalam dan menunjuk Wan Akub sebagai Kepala Urusan Penambangan timah di Bangka.

Sejak saat itu penambangan timah mulai dilakukan secara serius dan dalam skala besar. Wan Akub membangun Muntok dan berdiam disana sebagai pemegang kekuasaan mewakili Sultan Palembang. Melihat kemajuan Muntok yang luar biasa, pada saat Wan Usman menjadi Kepala Urusan penambahan timah, Sultan Palembang melengkapi Muntok dengan sistem pemerintahan yang teratur dan tertata dengan rapi yaitu dengan mengangkat Wan Usman menjadi Menteri Rangga.

Pada masa kolonial Muntok tetap berfungsi sebagai pusat pemerintahan, terbukti dengan ditempatkannya seorang resident, yang mengurusi perdagang timah pihak kolonial. Sampai dengan tahun 1912 Residen Bangka, selain dia pemegang kekuasaan pemerintah juga merangkap sebagai penanggungjawab pertambangan timah dengan bertempat kedudukan di Muntok. Pada tahun 1912 pusat pemerintahan dipindahkan ke Pangkalpinang, sedangkan Muntok dijadikan pusat eksplorasi timah.

5. Pembahasan

Secara umum pemukiman di Kota Muntok terdiri dari tiga klaster yang dibagi berdasarkan kelompok etnis, yaitu Melayu, Cina dan Eropa. Secara geografis klaster Melayu dan Cina berlokasi di tepi pantai; sedangkan klaster Eropa terletak di sebelah utara kedua klaster tersebut dan berada lebih jauh dari pantai.

Klaster Melayu terdiri dari tiga subklaster, yaitu Kampung Tanjung di bagian barat, Kampung Teluk Rubia di bagian timur dan Kampung Ulu di bagian utara. Dari ketiga subklaster Melayu, Kampung Tanjung merupakan pemukiman tertua dari semua pemukiman di Kota Mentok. Klaster Cina terletak di antara Kampung Tanjung dan kampung Teluk Rubia.

Pengamatan di lapangan batas-batas antar klaster berupa batas geografi. Klaster Eropa terletak di bentang lahan yang paling tinggi dibanding klaster-klaster lainnya. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa antara klaster Cina dengan subklaster Kampung Tanjung dipisahkan oleh Sungai Muntok, tetapi pada awal abad 20 M oleh pemerintah Hindia Belanda aliran sungai tersebut dialihkan ke bagian tengah Klaster Cina.

Jenis tinggalan arkeologi di ketiga klaster tersebut dapat dibagi menjadi empat, yaitu bangunan religi, bangunan hunian, bangunan umum, dan bangunan pertahanan. Berdasarkan fungsinya bangunan religi terdiri dari masjid, makam dan gereja; bangunan hunian berupa rumah; bangunan umum berupa sekolah, kantor dan penjara; sedangkan bangunan pertahanan berupa benteng.






Dalam studi tentang pertumbuhan kota, ada tiga fase yang sering digunakan dalam membagi kota berdasarkan masa pertumbuhannya, yaitu periode awal, kolonial dan modern. Berdasarkan analisis terhadap peta Kota Muntok, diketahui bahwa Kota Muntok merupakan kota yang tumbuh pada masa kolonial. Hal ini ditandai oleh keberadaan Klaster Eropa sebagai pusat kekuasaaan. Selain itu Kota Muntok pada masa kolonial juga berfungsi sebagai pusat administrasi dan perekonomian, di mana residen berperan sebagai penanggungjawab pemerintahan dan pertambangan timah.





Menurut Peter J M Nas, salah satu ciri sebuah kota kolonial adalah adanya pemisahan kelompok penduduk berdasarkan latar belakang etnisnya, sehingga pada umumnya dalam suatu kota kolonial terdapat tiga nuansa budaya yaitu budaya lokal, Cina dan Eropa (Nas 2007). Dalam halnya Kota Muntok, ketiga nuansa ini terlihat dengan jelas. Hasil penelitian pada tahun 2007 menunjukkan bahwa di Kota Muntok setidaknya terdapat empat kelompok pemukiman yang dapat dibagi berdasarkan kelompok etnis, yaitu Melayu, Cina, Eropa dan Arab.

Secara fisik, tata kota Muntok mencirikan sebuah kota kolonial yang tumbuh setelah tahun 1870. Adapun pertumbuhan Kota Muntok dikarenakan adanya kegiatan perekonomian, yaitu pertambangan timah. Konsep-konsep kosmologis yang umum diterapkan pada kota-kota tradisional tidak terlihat dalam tata kota Muntok. Tata letak klaster-klaster di kota ini lebih disebabkan oleh unsur praktis, di mana mobilitas penduduknya dapat dilakukan dengan mudah. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa daerah yang tidak jauh dari pantai merupakan kawasan yang dipilih oleh kelompok etnis Melayu, Cina, dan Arab. Sedangkan kelompok etnis Eropa lebih memilih kawasan yang lebih tinggi, karena pada masa kolonial ada kecenderungan pada kelompok etnis ini untuk melegitimasi kedudukannya sebagai penguasa di daerah koloninya.

6. Penutup

Potensi sumberdaya alam berupa kandungan timah merupakan faktor pemacu tumbuhnya pemukiman di Kota Muntok, dari sebuah pemukiman yang sederhana menjadi sebuah kota yang merupakan pemukiman yang lebih kompleks. Perkembangan permukiman di Kota Muntok berawal dari sebelah timur laut kota, yaitu Kampung Tanjung kemudian berkembang ke arah barat daya dan akhirnya menyebar ke  arah pedalaman yaitu di bagian barat laut.

Berdasarkan tinggalan-tinggalan arkeologi dan ditunjang oleh lokasi geografis dan potensi sumberdaya alamnya menunjukkan bahwa Kota Muntok memiliki kedudukan yang cukup penting dalam jalur perdagangan di pantai timur Sumatera. Data sejarah menunjukkan bahwa pada masa Sriwijaya, Bukit Menumbing yang merupakan daerah tertinggi di Kota Muntok digunakan sebagai penunjuk arah oleh pelaut-pelaut yang berlayar dari arah utara menuju Kota Palembang. Padatnya kegiatan pelayaran di perairan Selat Bangka tersebut terus berlangsung hingga masa-masa berikutnya, oleh sebab itu pemerintah Hindia Belanda kemudian mendirikan sebuah mercusuar di Tanjung Kelian sebagai alat bantu navigasi pelayaran.


Daftar Pustaka


Atmodjo, Junus Satrio dan Heni Fajria Rifati. 1996. Laporan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan.  Jambi: Suaka PSP Provinsi Jambi, Sumsel dan Bengkulu.
Cortesao, Armando. 1967. The Suma Orienta of Tome Pires: An Account of The East. London: Hakluyt Society
Hardiati, Endang Sri. 1993. Laporan Penelitian Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung. Provinsi Sumatera Selatan. Jakarta: Puslit Arkenas.
Marsden, William. 1975. The History of Sumatra. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Nas, Peter J. M. 2007. Kota-Kota Indonesia. Bunga Rampai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Novita, Aryandini dan Budi Wiyana, 2001. “Laporan Penelitian Tinggalan-Tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau BangkaBerita Penelitian Arkeologi Nomor 6. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.
Rahardjo, Supratikno. 1991. “Pertumbuhan dan Keruntuhan Kota-Kota Prakolonial di Indonesia: Suatu Kajian Menurut Model Evolusi”, Tesis. Fakultas Pascasarjana - Universitas Indonesia.
Setyorini, Rusmeijani. 1997. Laporan Survei Mentok, Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera  Selatan. Jambi: Suaka PSP Jambi, Sumsel dan Bengkulu (tidak diterbitkan).
Somers Heidnues, Mary F. 1992. Bangka Tin and Mentok Peper Social Issues in Sutheast Asia. Institute of Southeast Asia Studies. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Van der Kemp, P. H. tt. Palembang en Bangka in 1816 - 1820.
Wellan, W. J. W. 1932. Zuid Sumatera, Economish overzicht van de Gewsten Djambi, Palembang, De Lampoengsche Districten en Bengkoelen. Wageningen (Holland): H Veenman en Zonen.
Wijaya, Arif. 2007. “Muntok” dalam www.majalahsagang.com

Tulisan ini telah diterbitkan dalam Jurnal "Siddhayatra" volume 13 nomor 1 Mei 2008 hal 12 - 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar