Selasa, 17 April 2012

Akulturasi di Situs Almunawar, Palembang


Pendahuluan

Sejak masa Sriwijaya Kota Palembang telah dikenal sebagai kota perdagangan. Berdasarkan hal tersebut tentunya banyak kelompok masyarakat yang datang ke kota Palembang yang berasal dari manca negara. Hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa kelompok etnis asing lainnya yang bermukim di Kota Palembang sejak masa lalu yaitu Arab, Cina, India, dan Eropa. Keberadaan kelompok etnis Arab, Cina dan India telah ada jauh sebelum Bangsa Eropa datang ke Palembang.

Sejak masa Pra-Kesultanan, kecuali kelompok etnis Arab, kelompok etnis asing lainnya tidak diperbolehkan menetap di daratan melainkan di rumah-rumah rakit di sepanjang Sungai Musi. Hal ini juga dilaporkan oleh Sevenhoeven yang menjabat sebagai regeeringcommissaris di Palembang pada tahun 1821. Dilaporkan bahwa kelompok etnis asing yang menetap di daratan hanyalah kelompok etnis Arab (Sevenhoeven, 1971: 33). Baru setelah masa kolonial Hindia-Belanda kelompok etnis asing lainnya diperbolehkan menetap di daratan.

Data sejarah menyebutkan bahwa kelompok etnis Arab telah ada di Palembang sejak abad VII M. Dalam sumber berita Arab disebutkan bahwa kelompok etnis ini singgah di Palembang sebelum melanjutkan perjalanannya ke Cina (Purwanti, tt: 4). Beberapa ahli berpendapat bahwa umumnya kelompok etnis Arab di Indonesia, termasuk Palembang, berasal dari Hadramaut yang terletak di daerah pesisir jazirah Arab bagian selatan, yang sekarang merupakan wilayah negara Yaman. Kelompok etnis ini awalnya merupakan pedagang perantara, seiring dengan perjalanan waktu mereka kemudian menetap dan menikah dengan penduduk Palembang (Purwanti, tt: 2; Mujib, 2000: 1; Harita, 2006: 19). Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, di masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706), kelompok etnis Arab mendapat kebebasan untuk menetap di daratan karena jasa mereka dalam perekonomian Kesultanan Palembang Darussalam (Purwanti, tt: 5).

Selain berprofesi sebagai pedagang, kelompok etnis Arab juga mempunyai hubungan yang cukup dekat dibanding dengan kelompok etnis asing lainnya. Dari tinggalan-tinggalan arkeologi yang berupa makam, baik itu makam para Sultan Palembang Darussalam maupun makam para bangsawan Kesultanan, selalu didampingi oleh makam ulama yang merupakan guru agama sultan dan kerabat-kerabat Kesultanan (Mujib, 1997). Selain makam, data arkeologi yang menunjukkan kedekatan kelompok etnis Arab dengan Kesultanan Palembang Darussalam berupa naskah-naskah keagamaan yang dijadikan koleksi sultan. Keberadaan naskah-naskah tersebut membuktikan bahwa pada masa Kesultanan kelompok etnis Arab juga berperan sebagai juru tulis kitab-kitab Agama Islam (Mujib, 2000: 9).

Kedekatan kelompok etnis Arab dengan Sultan juga ditunjukkan dengan pemberian gelar Pangeran  (Sevenhoeven 1971: 34). Pada masa selanjutnya, pemerintah kolonial Hindia-Belanda juga menunjuk seorang dari kelompok etnis Arab sebagai pemimpin kelompok tersebut. Orang-orang yang ditunjuk tersebut diberi pangkat seperti dalam pangkat kemiliteran yaitu Kapten atau Mayor.

Kelompok etnis Cina umumnya berprofesi sebagai pedagang, selain itu mereka juga berrprofesi di bidang pertukangan. Pada masa Kesultanan, kelompok etnis Cina yang beragama Islam, umumnya pejabat administratur tambang, diberi gelar Demang oleh Sultan. Demikian juga pada masa selanjutnya, pemerintah kolonial Hindia-Belanda juga mengangkat seorang dari kelompok etnis tersebut sebagai pemimpin kelompok. Orang-orang yang ditunjuk tersebut diberi pangkat seperti dalam pangkat kemiliteran yaitu Kapten atau Mayor.

Kelompok etnis India umumnya berprofesi sebagai kuli angkut  dan termasuk dalam golongan masyarakat kelas rendahan (Mujib, 2000: 10). Sejak masa Pra-Kesultanan orang-orang Eropa yang menetap di Palembang adalah pedagang, baru setelah masa kolonial Hindia-Belanda berdatangan orang-orang Eropa yang berprofesi di berbagai bidang, baik di pemerintahan maupun sektor swasta lainnya.

Permasalahan

Sampai saat ini komunitas kelompok etnis Arab masih banyak ditemukan di Palembang, yaitu di Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur I dan Kelurahan 9-10 Ulu, 12 Ulu, 13 Ulu, 14 Ulu, 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang. Secara spesifik pemukiman kelompok etnis Arab di Situs Almunawar, Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu, Palembang menarik untuk dikaji lebih mendalam karena di situs ini masih dapat dilihat pola pemukimannya. Selain itu latar sejarah situs tersebut dibanding situs-situs lainnya umumnya masih dapat ditelusuri.

Kehadiran kelompok etnis Arab dapat dikatakan mengakibatkan terjadinya kontak budaya dengan masyarakat Palembang yang berbeda latar budaya. Penyerapan unsur budaya asing tentunya tidak hanya terjadi pada penduduk lokal saja, tetapi juga terjadi pada kelompok masyarakat Arab yang menetap di Palembang. Berdasarkan hal tersebut permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini mengenai akulturasi yang terjadi pada tinggalan-tinggalan arkeologi dari kelompok etnis Arab di Situs Almunawar.

Tujuan

Datangnya kelompok etnis Arab ke Palembang tentunya tidak hanya mempengaruhi kebudayaan lokal tetapi juga kebudayaan lokal juga mempengaruhi dari kebudayaan mereka. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari tulisan ini untuk mengungkapkan sejauh mana kebudayaan lokal dan kebudayaan asing lainnya di mempengaruhi pada tinggalan-tinggalan arkeologi di Situs Almunawar.

Kerangka Teori

Secara umum kebudayaan mempunyai definisi keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya  manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat 1983: 182). Berdasarkan hal tersebut maka terlihat kebudayaan memiliki tiga wujud yang saling berkaitan menjadi suatu sistem, ketiga wujud kebudayaan tersebut yaitu ide dan gagasan yang membentuk pola pikir dalam suatu masyarakat; aktivitas serta tindakan berpola dari suatu masyarakat; serta benda-benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat 1983: 189). Kebudayaan juga dapat dikatakan merupakan tindakan manusia dalam usahanya untuk beradaptasi dengan lingkungannya (Deetz 1967: 7).

Dalam sejarah kebudayaan manusia, hubungan antar kelompok masyarakat memungkinkan terjadinya kontak budaya atau yang dikenal dengan istilah akulturasi. Dalam perkembangannya kebudayaan suatu daerah mengalami proses-proses pencampuran yang disebabkan oleh adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tersebut dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing. Proses pencampuran budaya ini dikenal dengan istilah akulturasi (Koentjaraningrat 1989: 247-248). Proses akulturasi akan terjadi karena adanya hubungan dan pergaulan suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat lain, di mana masing-masing masyarakat saling memberikan dan menerima pengaruh (Poespowardojo 1986: 33). Akulturasi pada dasarnya adalah proses percampuran budaya yang terjadi karena adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing.

Adanya penduduk yang heterogen di suatu wilayah tertentu dapat mengakibatkan terjadinya kontak budaya antar kelompok yang berbeda latar budaya atau yang dikenal dengan istilah akulturasi. Akulturasi sendiri mempunyai definisi suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri (Koentjaraningrat 1983: 251). Penyerapan unsur budaya asing tersebut tentunya tidak hanya terjadi pada penduduk lokal saja, tetapi juga terjadi pada kelompok masyarakat asing yang menetap di wilayah tersebut.

Salah satu suatu media pencerminan kebudayaan adalah arsitektur, karena pada dasarnya arsitektur merupakan wujud dari pola tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan sebagai tempat bernaung untuk melindungi dirinya dari gangguan-gangguan dan bahaya alam. Sebagai hasil karya manusia, arsitektur sangat dipengaruhi oleh geografi, geologi, iklim, keadaan sosial, agama dan falsafah kepercayaan, serta sejarah (Oesman 1996: 5). Dengan demikian dapat dikatakan dengan mengamati arsitektur, dapat diketahui bagaimana masyarakat di suatu wilayah tertentu menerapkan kebudayaan yang melatarbelakangi pola kehidupan mereka.

Tinggalan Arkeologi di Situs Almunawar

Situs Almunawar termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II. Situs ini merupakan dataran rendah yang dibatasi oleh Sungai Musi di bagian selatan, Sungai Temenggungan di bagian barat dan Sungai Kangkang di bagian timur dan batas utara berupa rawa-rawa.


Situs ini juga merupakan pemukiman yang padat yang dihuni  oleh warga kelompok etnis Arab yang masih terikat hubungan persaudaraan yang berasal dari marga Almunawar yang merupakan keturunan dari Abdullah Almunawar dan beberapa kelompok etnis lainnya. Mata pencaharian penduduk di situs Almunawar umumnya berdagang dan pekerja lepas.

Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk-bentuk rumah yang terdapat di Situs Almunawar diketahui ada tiga jenis rumah, yaitu rumah limas, rumah panggung dan rumah Indies. Hasil pengamatan terhadap bentuk, ragam hias dan informasi yang didapat dalam wawancara diketahui secara relatif kronologi rumah-rumah tersebut berasal dari abad XIX M hingga awal abad XX M.

Ragam hias yang terdapat di rumah-rumah di Situs Almunawar berupa ragam hias bergaya Eropa dengan motif flora, fauna dan geometris. Rumah-rumah di situs ini mempunyai kesamaan pola ruang, yaitu adanya ruang terbuka, yang terdapat di bagian tengah dan belakang rumah. Pada rumah limas pembagian ruang dibuat dengan bentuk bertingkat-tingkat. Secara umum denah rumah-rumah di Situs Almunawar berupa persegi, huruf ‘U’, ‘U’ terbalik dan ‘I’.

Tata ruang permukiman di Situs Almunawar memiliki pola konsentris dimana rumah-rumah yang dibangun di situs tersebut disusun mengelilingi sebuah lahan terbuka. Sebagai salah satu unsur dari sebuah permukiman adalah adanya bangunan religi. Bangunan religi yang terdapat di Situs Almunawar berupa satu buah masjid yang terletak di tepi Sungai Musi, yang sampai saat ini masih digunakan tetapi bentuknya sudah mengalami perubahan.


 
 Pembahasan

Secara umum unsur-unsur budaya lokal dan asing lainnya diterapkan pada bentuk dan ragam hias yang terdapat di rumah-rumah tinggal di Situs Almunawar. Unsur budaya lokal dapat dilihat pada bentuk rumah limas dan rumah panggung.

Di Situs Almunawar terdapat satu buah rumah limas yang oleh masyarakat setempat disebut ‘rumah darat’. Rumah darat didirikan di atas tiang kayu. Saat ini di antara tiang-tiang rumah tersebut diberi dinding-dinding bata sehingga menjadi ruangan-ruangan.
Rumah ini berdenah huruf ‘I’ dan memiliki ruang terbuka di bagian tengah, yang memisahkan bagian depan dengan bagian belakang. Di bagian depan rumah darat terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai teras tertutup, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur, sedangkan di bagian belakang terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Di antara bagian depan dengan bagian belakang dipisahkan oleh teras belakang dan ruang terbuka (courtyard). Teras belakang di rumah ini berupa teras terbuka.

Bagian-bagian di rumah darat dibuat bertingkat-tingkat. Ruang tamu dan ruang keluarga terletak lebih tinggi dibanding teras depan maupun teras belakang. Sedangkan dapur dan ruang makan yang berada di bagian belakang, diletakkan di tingkat paling rendah.

Secara umum rumah darat seolah-olah terdiri dari dua bangunan yang dipisahkan oleh ruang terbuka. Bagian depan dan belakang rumah darat memiliki atap yang berbeda. Bentuk atap bagian depan berupa atap limas, sedangkan atap bagian belakang berupa hipped-roof.

Rumah panggung di Situs Almunawar disebut oleh masyarakat setempat dengan ‘rumah tinggi’. Rumah tinggi didirikan di atas tiang kayu. Saat ini di antara tiang-tiang rumah tersebut diberi dinding-dinding kayu sehingga menjadi ruangan-ruangan.

Rumah ini berdenah persegi. dan memiliki ruang terbuka di bagian belakangnya. Secara umum rumah tinggi terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian depan, tengah dan belakang. Bagian depan berupa teras terbuka, bagian tengah terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur, sedangkan bagian belakang terdiri dari teras terbuka, ruang makan dan dapur serta ruang terbuka (courtyard). Bagian-bagian di rumah tinggi dibuat sejajar sehingga tidak ada perbedaan tingkat yang memisahkan bagian-bagian rumah. Atap rumah tinggi berupa atap limas.

Dari hasil penelitian diketahui rumah-rumah di Situs Almunawar yang dibangun lebih kemudian memiliki gaya arsitektur Indis. Rumah Indis di Situs Almunawar dapat dibagi dua, yaitu berlantai satu dan berlantai dua. Secara keseluruhan rumah Indis di Situs Almunawar berjumlah enam buah, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai ‘rumah kaca’, ‘rumah kembar darat’, ‘rumah kembar laut’, ‘rumah batu’.  Dua buah rumah Indis lainnya tidak memiliki sebutan khusus oleh masyarakat setempat dikarenakan keduanya didirikan lebih kemudian daripada empat rumah Indis lainnya.

Rumah kaca berupa rumah Indis berlantai dua yang sekarang berfungsi sebagai sekolah. Lantai satu berdinding bata sedangkan lantai dua berdinding kayu. Rumah kaca berdenah huruf ‘U’  dan memiliki ruang terbuka (courtyard) di bagian belakangnya. Bagian depan rumah kaca berupa balkon, yang berfungsi sebagai ruang tamu. Bagian tengah dan belakang ruang kaca saat ini difungsikan sebagai ruang-ruang kelas, sedangkan bagian belakangnya terdapat teras terbuka, ruang terbuka (courtyard) dan ruang-ruang yang berfungsi sebagai kelas. Atap rumah kaca berupa atap hipped-roof.


Rumah kembar darat merupakan dua buah rumah yang memiliki bentuk yang sama. Kedua bangunan berlantai dua tersebut didirikan berhadapan. Sama seperti rumah kaca, lantai satu rumah kembar darat berdinding bata sedangkan lantai duanya berdinding kayu.

Rumah kembar darat berdenah huruf ‘U’  dan memiliki ruang terbuka (courtyard) di bagian belakangnya. Bagian depan lantai satu berupa teras terbuka, di bagian ini terdapat sebuah tangga naik menuju lantai dua. Bagian tengah rumah kembar darat terdiri dari ruang tamu dan ruang tidur, sedangkan bagian belakang terdiri dari teras terbuka, ruang makan dan dapur serta ruang terbuka (courtyard). Seperti dengan teras depan, di teras bagian belakang ini terdapat sebuah tangga naik yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai dua.

Lantai dua rumah kembar darat terdiri juga dari tiga bagian. Bagian depan berupa teras tertutup dan bagian tengah berupa ruang-ruang yang berfungsi sebagai kamar tidur, sedangkan bagian belakang berupa teras tertutup. Atap rumah kembar darat berjumlah dua buah, keduanya berupa atap hipped-roof.

Seperti rumah kembar darat, rumah kembar laut darat merupakan dua buah rumah yang memiliki bentuk yang sama. Kedua bangunan berlantai dua tersebut didirikan bersebelahan. Sama seperti rumah Indis berlantai dua lainnya, lantai satu rumah kembar laut berdinding bata sedangkan lantai duanya berdinding kayu.

Rumah kembar laut berdenah huruf ‘U’  dan memiliki ruang terbuka (courtyard) di antara kedua rumah tersebut. Bagian depan lantai satu berupa teras terbuka, bagian tengah terdiri dari ruang tamu dan ruang tidur, sedangkan bagian belakang terdiri dari teras terbuka. Di bagian belakang rumah kembar laut terdapat bangunan tambahan yang terdiri  ruang makan dan dapur.

Lantai dua rumah kembar laut terdiri juga dari tiga bagian. Bagian depan berupa teras tertutup dan bagian tengah berupa ruang-ruang yang berfungsi sebagai kamar tidur, sedangkan bagian belakang berupa teras tertutup. Teras bagian depan dan teras bagian belakang juga berfungsi sebagai penghubung antar rumah. Atap rumah kembar laut berupa atap hipped-roof.


Rumah batu adalah rumah Indis berlantai satu yang didirikan di atas pondasi yang ditinggikan. Rumah ini berdenah persegi dan memiliki ruang terbuka di bagian tengah, yang memisahkan bagian depan dengan bagian belakang. Di bagian depan rumah darat terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai teras tertutup, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur, sedangkan di bagian belakang terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Di antara bagian depan dengan bagian belakang dipisahkan oleh ruang terbuka (courtyard).

Bagian-bagian di rumah batu dibuat bertingkat-tingkat. Ruang tamu dan ruang keluarga terletak lebih tinggi dibanding teras depan. Sedangkan dapur dan ruang makan yang berada di bagian belakang, diletakkan di tingkat paling rendah. Atap rumah kaca berupa atap perisai.


Rumah Indis A adalah rumah Indis berlantai satu yang didirikan di atas pondasi yang ditinggikan. Rumah ini berdenah persegi. Di bagian depan rumah terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur, sedangkan di bagian belakang terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai dapur,ruang makan dan ruang terbuka (courtyard).

Di sisi kiri rumah terdapat bangunan tambahan yang berdenah persegi dan beratap  mansard-roof. Di bagian depan rumah terdapat sebuah ruangan yang menjorok ke depan yang berfungsi sebagai ruang tidur.Ruangan tersebut berdenah segi lima dengan atap octagonal hipped-roof. Secara umum atap rumah Indis A berupa gabungan atap perisai dan pelana.


Rumah Indis B adalah rumah Indis berlantai satu yang didirikan di atas pondasi yang ditinggikan. Rumah ini berdenah persegi. Di bagian depan rumah terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur, sedangkan di bagian belakang terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Atap rumah ini berupa atap perisai.
  
Ragam hias yang terdapat di Situs Almunawar baik di rumah limas, panggung dan indis umumnya bergaya eropa dengan motif flora, fauna dan geometris. Secara keseluruhan motif-motif tersebut terdapat di bagian-bagian rumah seperti pintu, tiang, jendela, console, penyekat ruangan, tegel, railing, teritisan dan ventilasi.

Variasi Ragam Hias pada Komponen Arsitektur di Situs Almunawar

Pintu



















Tiang                   

 Console







 Jendela








Penyekat Ruangan









Tegel















Railing















Teritisan
















Ventilasi























Penutup

Secara umum arsitektur di Situs Almunawar merupakan refleksi adaptasi kelompok etnis Aab di situs tersebut dengan kebudayaan setempat. Sebagai masyarakat pendatang, kelompok etnis Arab di Situs Almunawar telah menyerap unsur budaya Palembang dalam menerapkan bentuk rumah tinggalnya yaitu rumah limas. Demikian juga dalam perkembangan berikutnya mereka juga menerapkan bentuk bangunan yang sedang menjadi tren pada saat itu.

Bentuk rumah yang terdapat di Situs Almunawar pada dasarnya merupakan wujud kontak budaya kelompok etnis Arab dengan masyarakat setempat. Rumah limas dan panggung merupakan unsur budaya Palembang yang diserap untuk bentuk huniannya, demikian juga rumah Indies yang secara umum merupakan bentuk rumah yang menjadi tren pada awal abad XX M di nusantara. Selain itu baik di rumah panggung dan limas, ragam hias bergaya Eropa juga digunakan oleh kelompok etnis Arab di Situs almunawar.

Meskipun demikian penerapan unsur lokal oleh kelompok etnis Arab tidak sepenuhnya diterapkan, hal ini terlihat pada tingkatan-tingkatan yang membagi ruangan-ruangan di dalam rumah limas. Jika pada masyarakat Palembang pembagian tersebut didasarkan pada status sosial seseorang maka pada kelompok etnis Arab pembagian tersebut didasarkan pada tingkat pengetahuan agama, sehingga dapat dilihat pada acara-acara keagamaan kaum ulama menempati ruangan yang tertinggi.

Daftar Pustaka

Cortesao, Armando. 1944. The Suma Orienta of Tome Pires. An Account of The East from The Red Sea to Japan, Writen in Malacca and India 1512-1515. London: Hakluyt Society.
Harita, Netta Desi, 2006. “Pola Pemukiman Komunitas Arab di Palembang”, skripsi Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Mujib, 1997. “Pemilihan Ulama Kesultanan Palembang: Primordialisme atau Otoritas Sultan” , Intizar no 9 hal. 19-38.
-------, 2000. Pemberdayaan “Masyarakat Asing” di Palembang Pada Masa Kesultanan, makalah dalam EHPA, Bedugul 14 -18 Juli 2000.
-------, 2001. “Data Arkeologis tentang Kesultanan Palembang”, Islam dalam Sejarah dan Budaya Masyarakat Sumatera Selatan. Zulkifli dan Abdul Karim Nasution (ed.) hal. 25-67.
Oesman, Osrifoel, 1996, "Rekonstruksi Bangunan Hunian di Situs Trowulan. Suatu Kajian             terhadap Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhinya" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VIII, Cipanas, 12 - 16 Maret 1996.
Poespowardojo, Soerjanto. 1986."Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi" dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Ayatrohaedi (ed.) hal. 28-38. Jakarta: Pustaka Jaya
Purwanti, Retno,  tt. Konflik Elit Politik pada Masa Kesultanan Palembang (Tinjauan Berdasarkan Letak Makam para Sultan Palembang) (belum diterbitkan).
----------, tt. Komunitas Arab Palembang dalam Perspektif Arkeo-Historis (belum diterbitkan).
Rahim, Husni, 1998. Sistem Otorasi dan Administrasi Islam. Studi tentang Pejabat Agama Masa Kesultanan dan Kolonial di Palembang. Jakarta: Logos.
Sevenhoven, J.L. van, 1971, Lukisan Tentang Ibukota Palembang. Jakarta: Bhratara.
Sjafei, Soewadji. 1986."Peranan Local Genius dalam Kebudayaan" dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Ayatrohaedi (ed.) hal. 96-99. Jakarta: Pustaka Jaya

Tulisan ini telah diterbitkan dalam “Siddhayatra” Vol. 12 Nomor 2 November 2007 hal. 1 - 14 



2 komentar:

  1. Angka Main HONGKONG : 90315 BB

    Jaga BB Colok bebas HONGKONG : 9 1

    Colok Macau 2D HONGKONG : 90 31 BB

    Angka Jadi 2D Bom Bandar HONGKONG : 21*26*25*29*12*16*15*19*62*61*65*69*52*51*56*59*92*91*96*95*

    Main Ganjil Genap HONGKONG : GENAP

    Main Besar Kecil HONGKONG : BESAR

    Prediksi Togel Terlengkap

    Prediksi gratis tanpa mahar

    BalasHapus