Rabu, 18 April 2012

POTENSI TINGGALAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG


Pendahuluan
            Sumber-sumber sejarah memberi informasi bahwa tumbuh dan berkembangnya perdagangan  maritim  di Asia  dipicu oleh pertumbuhan dan perkembangan imporium-imporium besar di bagian barat dan timur benua Asia (Poesponegoro 1993: 121-122). Di barat Asia terdapat emporium Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah (660--749 M) kemudian Bani Abbasiyah (750--870 M), sedangkan di bagian timur terdapat kekaisaran Cina dibawah kekuasaan Dinasti Tang (618--907 M). Di kawasan Asia Tenggara berkuasa Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan maritim yang mendominasi perdagangan di Selat Malaka pada abad 7 – 11 M.
Aktivitas perdagangan melalui laut di kawasan ini diketahui sejak sekitar abad 6--7 M. Dalam pelayarannya, pedagang-pedagang tersebut singgah di kota-kota pelabuhan untuk menjual barang-barang dari negeri mereka dan membeli barang-barang yang dijual di kota pelabuhan tersebut untuk dijual kembali di kota pelabuhan berikutnya, termasuk kota-kota pelabuhan di nusantara. Masuknya wilayah nusantara sebagai bagian dari jaringan perdagangan antar-samudera mempunyai kaitan erat dengan rempah-rempah yang banyak dihasilkan di wilayah ini. Motivasi pelayaran pedagang-pedagang asing tersebut terutama untuk memperoleh komoditas sedekat mungkin dengan sumbernya.

Tidak hanya kapal-kapal asing saja yang datang ke nusantara, pada masa itu Kerajaan Sriwijaya yang berada di pantai timur Sumatera juga mempunyai peran dalam jaringan perdagangan di kawasan Asia Tenggara (Poesponegoro 1993: 122; Utomo 2006: 1-2). Selain perdagangan antar-samudera, di nusantara sendiri telah berlangsung perdagangan antar-pulau yang dilakukan oleh penduduk lokal.
Berdasarkan data sejarah jalur pelayaran di wilayah perairan nusantara bagian barat yang paling sering dilayari adalah Selat Malaka, Selat Bangka, Selat Gelasa serta Selat Karimata. Dalam pelayarannya tidak jarang kapal-kapal dagang tersebut diserang oleh perompak, Berita-berita Cina dan Arab cukup banyak menuliskan bahwa laut antara Pulau Batam dan Bangka tidak banyak dilayari karena sering terjadi gangguan perompak. Selain itu di perairan tersebut relatif lebih dangkal dibanding kawasan perairan lainnya (Atmodjo, 2000: 3).
Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan potensi arkeologi yang terdapat perairan Kepulauan Bangka Belitung.
Kepulauan Bangka Belitung dalam lalu lintas pelayaran nusantara
            Keletakan geografis nusantara menjadikan wilayah ini memiliki sistem angin musim. Pada bulan September sampai dengan November arah angin bertiup dari barat menuju timur sehingga dengan memanfaatkan fenomena alam ini pada bulan-bulan tersebut merupakan waktunya kapal-kapal dari wilayah barat berlayar menuju kota-kota pelabuhan hingga ke kawasan timur nusantara. demikian juga sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Februari. Dalam bulan Juni sampai dengan Agustus angin Laut Cina Selatan bertiup ke arah utara sehingga memudahkan pelayaran ke wilayah utara. (Poesponegoro, 1993: 102-103).
Secara geografis Kepulauan Bangka Belitung berada di antara dua lautan besar, yaitu Laut Natuna di bagian utara dan Laut Jawa di bagian selatan. Sedangkan di bagian barat terdapat Selat Bangka yang memisahkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera serta di bagian timur terdapat Selat Karimata yang memisahkannya dengan Pulau Kalimantan serta di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung dipisahkan oleh Selat Gelasa.
Berdasarkan keletakannya tersebut terlihat bahwa posisi Kepulauan Bangka Belitung berada di perlintasan kapal-kapal dagang yang berlayar dari arah Selat Malaka maupun Laut Cina Selatan menuju kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa, pantai selatan Kalimantan hingga kawasan timur nusantara. Demikian juga sebaliknya ketika kapal-kapal tersebut berlayar kembali ke Selat Malaka atau Laut Cina Selatan, mereka akan melintasi Kepulauan Bangka-Belitung.
Secara umum Kepulauan Bangka Belitung ini memiliki dua pulau besar yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil yang mengelilingi kedua pulau tersebut.  Luas perairan secara keseluruhan memiliki luas 65.301 km2.
Pembahasan
Sumber sejarah yang menyebutkan bahwa perairan di wilayah ini merupakan jalur perlintasan dari Laut Cina Selatan maupun Selat Malaka antara lain peta Mao K’un yang dibuat oleh Ma Huan pada tahun 1422 dan Shun Feng Hsian Sung yang merupakan panduan pelayaran pelaut-pelaut Cina yang ditulis sekitar tahun 1620 menyebutkan bahwa Bukit Menumbing yang terletak di pantai barat Pulau Bangka merupakan penanda bahwa kapal-kapal yang berlayar dari utara menuju Laut Jawa telah memasuki Selat Bangka (Wolter 1979:34-35).


Pelaut-pelaut Portugis pada abad ke 16 M juga memasukan perairan Bangka Belitung terutama Selat Bangka dalam Roteiros yang merupakan buku panduan pelayaran. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa terdapat 3 titik yang merupakan penanda jika kapal telah memasuki Selat Bangka yaitu Bukit Menumbing, Pulau Nangka dan Tanjung Berani. Digambarkan juga bahwa perairan Selat Bangka yang lebih dekat dengan Pulau Sumatera cenderung lebih dangkal dan berlumpur sedangkan perairan yang lebih dekat dengan Pulau Bangka banyak terdapat gosong karang (Manguin 1984: 18)
Selain itu Tome Pires dalam catatan perjalanannya yang ditulis antara tahun 1512-1515 menyebutkan bahwa di bagian akhir selat Bangka terdapat Pulau Lucipara. Dalam catatan tersebut Pulau Lucipara merupakan titik penanda di kawasan tersebut menuju Kerajaan Sunda, Kepulauan Mandalika, Pelabuhan Jepara dan Kepulauan Maluku (Cortesao 1944:157)
Data tertulis lainnya adalah Direction for Sailing to The East Indies yang ditulis oleh James Horsburgh pada tahun 1848. Dalam buku tersebut ditulis bahwa telah terjadi peristiwa kapal yang tenggelam di dekat Karang Belvidere di perairan Selat Gelasa, selat antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung, karena menabrak karang. Kapal tersebut berupa Junk Cina bernama Tek Sing yang berlayar dari Amoy pada tanggal 14 Januari 1822 menuju Batavia (Pickford dan Hatcher 2000: 6).
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dikatakan Kepulauan Bangka Belitung terletak di lintasan pelayaran yang menghubungkan daratan Asia dengan Nusantara. Meskipun data sejarah menyebutkan bahwa perairan di wilayah ini merupakan jalur perdagangan maritim pada abad 15 M, bukti arkeologi menunjukkan bahwa di wilayah ini telah menjadi jalur perdagangan maritim sejak masa yang lebih tua, yaitu abad 9 M. Hal ini didasari oleh analisis terhadap temuan keramik dari situs kapal tenggelam di perairan Kepulauan Bangka Belitung.
Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan, terdapat 21 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Bangka belitung (Yuzerman 2008). Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sendiri telah mendata situs-situs arkeologi bawah air di Kabupaten Belitung antara lain di perairan Desa Sungai Padang Kecamatan Sijuk, perairan Batu Hitam, perairan Pulau Siadung dan perairan Karang Raya (Listiyani 2008: 3). Berdasarkan titik-titik yang terdata oleh Departemen Kelautan dan Direktorat Peninggalan Bawah Air tersebut, terlihat, lokasi kapal tenggelam tersebut menyebar di seluruh perairan Bangka Belitung. Keadaan ini karena  perairan yang mengelilingi pulau tersebut sejak masa lalu merupakan jalur pelayaran yang cukup ramai bahkan hingga saat ini.  Keberadaan kapal-kapal tenggelam beserta muatannya tersebut memberikan bukti bahwa perairan Bangka Belitung memiliki peranan yang cukup penting dalam lalu lintas pelayaran dan perdagangan antar pulau maupun benua.
Sebagai penunjang aktivitas pelayaran di kawasan ini, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah mercusuar di beberapa pulau kecil dan tanjung di sekitar perairan Bangka Belitung (Foto 1). Pendirian mercusuar ini karena  perairan di wilayah ini banyak terdapat gosong karang sehingga kapal-kapal yang berlayar di perairan tersebut harus dipandu agar  tidak menabrak karang atau karam.


Kronologi dari benda-benda keramik yang ditemukan bersama kapal-kapal tenggelam di Kepulauan Bangka Belitung berasal dari abad 9 M hingga abad 19 M. Umumnya berupa keramik-keramik yang berasal dari Cina. Bentuk keramik-keramik tersebut dari berbagai macam, yaitu guci, buli-buli, piring, mangkuk, cepuk, cawan dan sendok (Foto 2).
Selain dari Cina, kapal-kapal dagang tersebut juga mengangkut keramik dari negara-negara produsen lainnya seperti Jepang,  Thailand dan Vietnam. Pada masa-masa berikutnya kapal-kapal dagang tersebut juga membawa benda-benda keramik yang diproduksi oleh Eropa (Foto 3) (Listiyani 2008: 2-3).
Tinggalan arkeologi yang berasal dari kapal tenggelam sebenarnya tidak hanya berupa barang-barang komoditi dagang masa lalu saja, tetapi dapat juga berupa wadah penyimpanan komoditi dagang atau wadah penyimpanan logistik selama pelayaran maupun kelengkapan kapal itu sendiri, antara lain barang-barang tembikar seperti kendi yang berfungsi sebagai wadah air atau periuk untuk memasak selama di pelayaran (Foto 4).  Selain itu tinggalan arkeologi dapat juga berupa benda-benda milik pribadi nakhoda, awak maupun penumpang kapal.


Berbagai faktor dapat menjadi penyebab terjadinya kapal tenggelam baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Faktor alam yang menyebabkan kapal-kapal tersebut tenggelam adalah serangan badai yang dapat menyebabkan kapal pecah atau menabrak gosong karang; sedangkan faktor manusia antara lain disebabkan oleh kebakaran, serangan perompak atau kelebihan muatan.
Penutup
        Banyak hal yang dapat diceritakan dari hasil penafsiran terhadap tinggalan arkeologi yang berasal dari kapal tenggelam. Tidak hanya mengenai tinggalannya itu sendiri tetapi dengan pengkajian yang lebih mendalam dapat diketahui pula kegiatan perdagangan pada masa lalu. Selain itu juga dapat diungkapkan tentang hubungan kebudayaan atau hubungan politik pada masa lalu yang terjadi antara kerajaan-kerajaan di nusantara dengan mancanegara.
Tinggalan arkeologi dari kapal tenggelam memiliki nilai ekonomis. Tinggi rendahnya nilai ekonomis tinggalan tersebut sangat relatif antara lain dipengaruhi oleh kondisi dan jumlahnya. Semakin langka benda tersebut maka semakin tinggi nilai ekonomisnya. Di sisi lain 'cerita' yang ada dibaliknya juga mempengaruhi nilai ekonomisnya.
Tinggalan arkeologi bawah air merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman, pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemanfaatan tinggalan arkeologi bawah air untuk kegiatan ekonomi semata-mata tidak hanya sekedar dapat dijadikan komoditi dagang belaka tetapi dapat dimanfaatkan juga sebagai obyek wisata bawah air. Sisa-sisa kapal yang tenggelam seharusnya tidak dibiarkan begitu saja demi mengambil tinggalan-tinggalan di dalamnya, karena sisa-sisa kapal tersebut juga merupakan obyek yang tak kalah menarik selain terumbu karang dan objek-objek bawah air lainnya dalam kegiatan menyelam.
Daftar Pustaka
Atmodjo, Junus Satrio, 2000,  “Sejarah Perdagangan dan Pelayaran Indonesia Masa Lalu (Abad III-XIII)” Leaflet Pameran Temuan Harta Karun Bawah Air dalam Sejarah Perdagangan Maritim Indonesia, Jakarta, 18 – 24 Juli 2000.
Cortesao, Armando, 1944, The Suma Orienta of Tome Pires: An Account of The East. London: Hakluyt Society
Listiyani, 2008, “Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan di Kabupaten Belitung”, Relik No 06 September 2008.
Manguin, Piere Yves, 1984, “Garis Pantai Sumatra di selat Bangka: Sebuah Bukti Baru Tentang Keadaan yang Permanen Pada Masa Sejarah”, Amerta, 8: 17-23).
Pickford, Nigel dan Michael Hatcher, 2000, The Legacy of Tek Sing China’s Titanic- its Tragedy and its Treasure.
Poesponegoro, Marwati Djoened, 1993, Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.
Utomo, Bambang Budi, 2006, “Kerjasama Iran dan Indonesia dalam Perspektif Kebudayaan”,  www.budpar.go.id
Yuzerman, Budhi, 2008, “Harta Karun di Laut Indonesia”, www.budhiyuzerman12862.blogspot.com
Wibisono, Naniek H, 2006, “Barang-Barang Muatan Kapal Karam Aset Budaya dan Ekonomi”, www.budpar.go.id
Widiati, R, 2007, Katalog Peninggalan Bawah Air Indonesia. Direktorat Peninggalan Bawah Air Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudaaan dan Pariwisata.
Wolters, OW, 1979, “A Note on Sungsang Village at The Estuary of The Musi River in Southeastern Sumatra: A Reconsideration of the Historical Gography of the Palembang Region”, Indonesia, 27: 33-50


Tulisan ini telah diterbitkan dalam “Siddhayatra” Vol. 13 Nomor 2 November 2008 hal. 1-6





Tidak ada komentar:

Posting Komentar