Selasa, 02 Maret 2010

Arsitektur Masjid-Masjid Kuno di Kabupaten Kerinci. Wujud Adaptasi Manusia terhadap Lingkungannya*)


Pendahuluan

Kabupaten Kerinci termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Jambi yang terbagi menjadi enam wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Gunung Kerinci, Air Hangat, Sungai Penuh, Sitinjau Laut, Danau Kerinci, dan Gunung Raya; serta lima Perwakilan Kecamatan yaitu Kayu Aro, Rawang, Sei Tutung, Batang Merangin, dan Keliling Danau. Daerah ini juga merupakan perbatasan Provinsi Jambi dengan Provinsi Sumatera Barat di sebelah utara dan Provinsi Bengkulu di sebelah barat.


Berdasarkan tinggalan-tinggalan arkeologinya, diduga di wilayah ini telah ada pemukiman sejak masa prasejarah. Situs-situs arkeologi dari masa prasejarah terdapat di hampir seluruh wilayah Kerinci, yaitu Kecamatan Sungai Penuh, Sitinjau Laut, Air Hangat, Gunung Raya dan Perwakilan Kecamatan Sei Tutung, Batang Merangin, Keliling Danau. Tinggalan-tinggalan arkeologi yang ditemukan di situs-situs tersebut berupa batu gong, kelompok menhir, punden batu, lumpang batu, batu kursi dan batu meriam (Prasetyo 1994: 179 - 181).


Dari masa berikutnya, yaitu masa klasik diketahui adanya tinggalan-tinggalan arkeologi yang berupa Arca Avalokitesvara. Arca tersebut terbuat dari perunggu. Lokasi penemuan dari arca ini tidak diketahui dengan jelas hanya disebutkan di daerah Sungai Penuh (Soekmono 1994: 85).


Situs-situs arkeologi yang berasal dari masa Islam terdapat di Kecamatan Gunung Raya, Keliling Danau, Sungai Penuh, Air Hangat, dan Perwakilan Kecamatan Sei Tutung. Tinggalan-tinggalan arkeologi yang terdapat di situs-situs tersebut berupa masjid, makam, bedug, dan naskah-naskah kuno. Pada beberapa situs makam terlihat adanya penggunaan kembali dari tinggalan-tinggalan prasejarah sebagai nisan (Tjandrasasmita 1994: 12 - 14). Masjid-masjid kuno di Kabupaten Kerinci terhitung berjumlah delapan buah,yaitu Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik[1], Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Tamiang Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Masjid-masjid tersebut tersebar di Kecamatan Air Hangat, Kecamatan Danau Kerinci, dan Kecamatan Gunung Raya.


Keadaan Umum Lingkungan Kabupaten Kerinci

Kabupaten Kerinci terletak di sebuah perbukitan yangmerupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Secara umum wilayah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu daerah pegunungan dengan ketinggian antara 500 - 1000 m di atas permukaan laut dan daerah pegunungan dengan ketinggian di atas 1000 m diatas permukaan laut (Klerk 1904).


Daerah Kerinci dan sekitarnya mempunyai iklim tropik lembab dengan curah hujan di atas rata-rata. Keadaan ini menjadikan daerah tersebut memiliki vegetasi hutan yang cukup lebat dan heterogen (Klerk 1904).


Secara keseluruhan Kabupaten Kerinci mempunyai kemiringan lahan antara 0 - 40%. Sedangkan jenis batuan dan tanah yang terdapat di daerah ini berupa endapan aluvial, tufa dan trias. Sumber air yang digunakan oleh penduduk berasal dari Danau Kerinci dan sungai-sungai yang mengalir di daerah tersebut seperti Sungai Lempur, Sungai Mange, Sungai Merangin, Sungai Buai, Batang Merao, Sungai Pagar, Sungai Sulak Deras, dan Air Hitam. Pada umumnya pemukiman di daerah ini berada di antara 11 m - 500 m dari sumber air (Mundardjito, 1994: 122 - 177).


Masjid-Masjid Kuno di Kabupaten Kerinci

1. Masjid Agung Pondok Tinggi

Masjid Agung Pondok Tinggi mempunyai denah pondasi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 30 x 30 meter. Pintu masuk masjid berjumlah dua buah, mas­ing-masing berukuran 1,85 x 2,22 meter. Pintu masuk ini memiliki dua buah daun pintu yang mempunyai hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran. Hiasan pada daun pintu ini berwarna biru, coklat, dan krem pada bagian dalam; dan biru, merah, hijau, dan krem pada bagian luarnya.

Dinding tubuh Masjid Agung Pondok Tinggi terbuat dari bahan kayu. Hiasan pada dinding berupa motif flora dan kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Pada setiap sudut dinding masjid terdapat hiasan sudut yang berupa ukiran dengan motif sulur-suluran. Hiasan pada dinding ini mempunyai warna merah, kuning,hijau, dan putih.

Pada ruang utama masjid terdapat tiang-tiang yang berdasarkan keletakannya dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok I berjumlah empat buah, terletak di bagian tengah. Bentuk tiang kelom­pok I adalah segi delapan dengan diameter 0,90 meter. Kelompok II berjumlah delapan buah, terletak mengelilingi tiang kelompok I. Kelompok III berjumlah 24 buah, terletak mengelilingi tiang kelompok II. Diameter tiang kelompok II dan III adalah 0,65 meter. Secara keseluruhan hiasan pada tiang Masjid Agung Pondok Tinggi berupa ukiran dengan motif sulur-suluran. Pada bagian bawah tiang-tiang tersebut terdapat lubang-lubang berbentuk persegi yang merupakan lubang bekas balok penyangga lantai.


Mihrab Masjid Agung Pondok Tinggi mengarah ke 64o dari titik utara. Mihrab ini mempunyai denah persegi panjang dan berukuran 3,10 x 2,40 meter. Mihrab tersebut berbentuk lengkung yang dihiasi dengan ukiran bermotif sulur-suluran dan tempelan tegel keramik.

Tempat adzan Masjid Agung Pondok Tinggi terletak di bagian atas ruang utama masjid. Tempat adzan ini berdenah bujur sangkar dan mempunyai ukuran 2,60 x 2,60 meter. Pada sisi-sisi tempat adzan terdapat pagar yang mempunyai hiasan berupa ukiran dengan motif flora. Untuk mencapai tempat adzan dari ruang utama masjid terdapat tangga naik yang terdiri dari 17 anak tangga yang diberi warna biru dan abu-abu. Pada pipi tangga terdapat hiasan berupa ukiran sulur-suluran.


Mimbar Masjid Agung Pondok Tinggi terbuat dari bahan kayu. Mimbar ini mempunyai ukuran 2,40 x 2,80 meter. Hiasan pada mimbar berupa ukiran dengan motif sulur-suluran. Pada bagian atas mimbar terdapat atap yang berbentuk kubah.

Atap Masjid Agung Pondok Tinggi berupa atap tumpang yang berjumlah tiga susun. Pada atap bagian atas terdapat mustaka yang pada bagian puncaknya terdapat hiasan berupa bulan sabit dan bintang.


2. Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir

Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir mempunyai pondasi yang berdenah bujur sangkar dan berukuran 18,5 x 18,5 meter. Untuk memasuki ruang utama masjid terdapat tangga naik yang dihias dengan tempelan tegel keramik di kedua pipi tangganya.

Pintu masuk Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir berjumlah dua buah, masing-masing berukuran 1,85 x 1,03 meter. Pintu-pintu tersebut mempunyai dua buah daun pintu dari bahan kayu. Di kedua sisi pintu masuk terda­pat hiasan tegel keramik.


Pada masing-masing dinding tubuh Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir terdapat empat buah jendela kayu. Jendela kayu ini mempunyai dua buah daun jendela dan berukuran 1, 16 x 1,70 meter. Pada kedua sisi jendela kayu terse­but terdapat jendela yang ditutup kaca dengan ukuran 0,50 x 0,50 meter. Secara keseluruhan jendela ini berjumlah 18 buah.


Pada bagian bawah dinding baik di sisi luar dan dalamnya terdapat hiasan berupa tempelan tegel keramik. Pada dinding-dinding Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir juga terdapat tiang semu. Tiang semu ini terbuat dari bahan kayu dan seluruhnya berjumlah 14 buah.


Di dalam ruang utama Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga atap. Pada bagian tengah terdapat tiang utama yang berbentuk segi delapan dengan diameter 0,60 meter. Tiang utama ini terbuat dari bahan kayu dan dihias ukiran bermotif sulur-suluran serta diberi warna krem, kuning, hijau, dan putih.


Umpak dari tiang utama tersebut mempunyai bentuk segi delapan yang semakin ke atas semakin mengecil. Tinggi umpak 1,25 meter dengan diameter bagian bawah 0,83 meter dan bagian atas 0,3 meter.


Di sekeliling tiang utama terdapat tiang-tiang yang terdiri dari dua kelompok. Kelompok I berjumlah empat buah, tiang-tiang ini mengelilingi tiang utama. Kelompok II berjumlah delapan buah dan mengelilingi tiang kelompok I. Diameter tiang kelompok I dan kelompok II lebih kecil dari tiang saka tunggal, yaitu 0,40 m dan berbentuk segi delapan.


Mihrab Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir mengarah ke 90o dari titik utara. Pada dinding barat mihrab terdapat jendela kaca yang berbentuk ling­karan dan dilengkapi oleh teralis besi dengan motif bintang. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang mempunyai hiasan tempelan tegel keramik. Mihrab ini mempunyai atap gabungan dari bentuk limas dam kubah. Pada puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit.


Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir mempunyai mimbar yang berukuran tinggi 2,25 meter, panjang 2,10 meter dan lebar bagian kaki 2,20 meter serta lebar bagian tubuh 1,80 meter. Pada kaki mimbar terdapat tangga yang terdiri dari tiga buah anak tangga. Dinding pada sisi kanan dan kiri tubuh mimbar dihias ukiran dengan motif sulur-suluran dan tempelan tegel keramik. Di bagian depan terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran bermotif flora. Atap mimbar berbentuk limas serta pada bagian puncaknya membentuk segi delapan.


Atap Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir berupa atap tumpang yang berjumlah tiga susun dan dipadukan dengan kubah pada bagian puncakn­ya. Pada bagian atas kubah terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit.


Kelengkapan lain yang merupakan sarana ibadah pada mesjid ini antara lain berupa kolam yang dipergunakan sebagai tempat bersuci. Jarak kolam dari masjid adalah 5,50 meter. Kolam yang terdapat di bagian depan masjid ini merupakan mata air. Kolam ini berjumlah dua buah. Kolam I berbentuk oval dengan ukuran 5 x 8 meter dan kolam II berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3 x 5 meter. Antara kedua kolam tersebut dibatasi oleh dinding setinggi 1, 25 meter.


3. Masjid Keramat, Pulau Tengah

Masjid Keramat mempunyai denah bujur sangkar dengan ukuran 27 x 27 meter. Dinding tubuh masjid pada sisi utara, selatan, dan barat terbuat dari bahan kayu, sedangkan dinding timur terbuat dari pasangan lepa.


Pada bagian luar dinding-dinding masjid dihiasi dengan tempelan tegel keramik. Pada dinding utara, selatan, dan barat terdapat hiasan yang juga berfungsi sebagai ventilasi berupa baluster[2] kayu yang disusun berjajar. Di sisi luar dinding pada bagian bawah baluster terdapat hiasan yang berbentuk ujung mata tombak. Pada setiap sudut dinding masjid terdapat hiasan berupa ukiran kayu dengan motif sulur-suluran.


Pintu masuk Masjid Keramat berjumlah dua buah. Pintu-pintu tersebut mempunyai dua buah daun pintu dengan ukuran tinggi 1,86 centimeter; lebar 0,70 centimeter; tebal 0,05 centimeter. Pintu masuk tersebut terbuat dari bahan kayu. Pada bagian atas pintu terdapat bentuk lengkung serta pada sisi kiri dan kanannya dihias oleh tempelan tegel keramik.


Di antara kedua pintu masuk masjid terdapat angka tahun 1348 H yang merupakan tahun pergantian pintu. Di depan kedua pintu masuk terdapat tangga naik yang mempunyai tiga buah anak tangga serta pipi tangga. Pipi tangga ini dihiasi dengan tempelan tegel keramik.


Di bagian dalam ruang utama masjid terdapat tiang-tiang yang menyangga atap masjid. Tiang utama yang terletak di tengah-tengah ruang utama masjid mempunyai bentuk segi delapan. Tiang ini terbuat dari bahan kayu. Pada bagian bawahnya terdapat umpak yang berbentuk segi delapan yang semakin ke atas semakin mengecil. Diameter umpak pada bagian yang terbesar adalah 0,95 meter sedangkan pada bagian yang terkecil adalah 0,55 meter. Umpak tiang utama ini dihiasi dengan tempelan tegel keramik.


Pada ruang utama masjid juga terdapat tiang-tiang yang letaknya mengelilingi tiang utama. Secara keseluruhan tiang-tiang tersebut berjumlah 24 buah. Bentuk dari tiang-tiang tersebut adalah segi delapan.


Berdasarkan keletakannya tiang-tiang yang mengelilingi tiang utama ini dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I terdiri dari empat buah tiang, sedangkan kelompok II terdiri dari 20 buah tiang. Tiang kelompok II mempunyai umpak berbentuk segi empat yang sisi-sisinya dihiasi dengan tempelan tegel keramik.


Pada bagian bawah tiang kelompok I dan II terlihat ada lubang persegi berukuran 26 x 21 centimeter. Berdasarkan pengama­tan terhadap lubang persegi tersebut diduga bangunan Masjid Keramat merupakan bangunan panggung dan lubang-lubang persegi tersebut merupakan lubang bekas balok penyangga lantai.


Mihrab Masjid Keramat mempunyai denah segi lima dan mengarah ke 64o dari titik utara. Pada bagian depan mihrab terdapat dua buah tiang kayu yang berdiri di atas umpak berbentuk segi empat dengan ukuran 0,49 x 0,49 meter dan dihiasi oleh tempelan tegel keramik. Pada bagian atas tiang terdapat bentuk lengkung semu yang dihiasi oleh ukiran dengan motif sulur-suluran. Selain pada umpak tiang, tegel keramik juga digunakan untuk menghias dinding bagian dalam mihrab. Atap mihrab berbentuk kubah dan pada bagian puncaknya terdapat mustaka.


Mimbar Masjid Keramat terbuat dari bahan kayu. Ukuran mimbar adalah 2,24 x 1,48 meter. Pada bagian depan mimbar terdapat tangga yang memiliki dua buah anak tangga. Tangga naik ini mempun­yai pipi tangga yang dihias ukiran dengan motif sulur-suluran. Pada bagian depan dan belakang mimbar terdapat tiang yang berjumlah empat buah. Bentuk dari tiang-tiang tersebut adalah segi delapan yang semakin ke atas semakin mengecil. Pada dua tiang bagian depan, di bagian atasnya dihubungkan dengan bentuk lengkung semu yang berupa ukiran bermotif sulur-suluran.


Di dalam Masjid Keramat juga terdapat tempat adzan yang berada di atas ruang utama. Tempat adzan ini terbuat dari bahan kayu yang dipagari oleh ukiran kayu bermotif sulur-suluran. Untuk mencapai tempat adzan dari ruang utama masjid dipergunakan sebuah tangga kayu yang berukuran 6,80 x 0,60 meter.

Atap Masjid Keramat berbentuk tumpang yang bersusun tiga. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bawang.


4. Masjid Nurul Iman Lolo Hilir

Keadaan Masjid Nurul Iman sudah rusak akibat bencana gempa pada Oktober 1995, tetapi meskipun demikian bentuk umum masjid masih dapat diamati. Pondasi masjid berdenah bujursangkar dengan ukuran 13,10 x 13,10 meter. Pintu masuk pada masjid ini sudah rusak sehingga tidak dapat dilihat lagi bentuk aslinya.


Pada bagian dalam dinding masjid terdapat hiasan berupa roster, sedang pada bagian luar dihias tempelan tegel keramik. Pada bagian dalam dinding atas terdapat balok kayu yang berfungsi sebagai penyang­ga atap yang dihiasi oleh ukiran bermotif lidah api dan diberi warna merah, kuning, dan biru. Selain itu terdapat juga hiasan berupa antefiks.


Jendela Masjid Nurul Iman berjumlah 12 buah. Bentuk jendela persegi panjang dengan ukuran 1,80 x 0,84 meter. Jendela-jendela tersebut mempunyai dua buah daun jendela. Tiang pada ruang utama Masjid Nurul Iman berjumlah 12 serta sebuah tiang utama. Tiang utama berbentuk segi delapan dengan diameter 0,95 meter. Tiang ini terbuat dari bahan kayu dengan umpak dari pasangan lepa. Umpak tiang berbentuk padma. Hiasan pada tiang utama berupa ukiran dengan motif tali, dan flora. Hiasan-hiasan ini diberi warna merah, kuning, dan biru.


Keduabelas tiang yang mengelilingi tiang saka mem­punyai bentuk segi 8 dengan diameter 0,62 meter. Pada bagian atasnya terdapat hiasan berupa ukiran dengan motif flora. Pada bagian bawah tiang terdapat lubang persegi beru­kuran 0,20 x 0,10 meter yang merupakan bekas lubang balok pen­yangga lantai.


Mihrab Masjid Nurul Iman mempunyai denah bujur sangkar. Arah hadap mihrab adalah 64o dari titik utara. Hiasan pada dinding mihrab berupa roster dan tempelan tegel kera­mik. Atap mihrab berbentuk limas dan pada bagian atasnya terdapat kubah yang dilengkapi dengan mustaka.


Atap Masjid Nurul Iman berbentuk tumpang yang bersusun dua. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka berbentuk bawang. Pada bagian dalam atap terlihat konstruksi atap dihiasi dengan ukiran bermotif lidah api dan tali. Hiasan tersebut diberi warna merah, kuning, dan biru.


5. Masjid Tamiang Hilir

Pondasi Masjid Tamiang Hilir berdenah bujursangkar dan berukuran 9,55 x 9,55 meter. Pada bagian luar dan dalam dinding tubuh masjid dihiasi dengan roster dan tempelan tegel keramik.

Pintu masuk ruang utama Masjid Tamiang Hilir berjumlah 2 buah dan tidak mempunyai daun pintu. Pintu masuk berbentuk lengkung sempurna yang pada sisi-sisinya dihiasi dengan tempelan tegel keramik.


Pada ruang utama masjid terdapat sebuah tiang utama serta 12 tiang yang mengelilinginya. Tiang utama Masjid Tamiang Hilir terbuat dari bahan kayu dan berbentuk segi delapan. Diameter tiang 0,90 meter serta mempunyai hiasan berupa ukiran dengan motif tali dengan warna merah, kuning, dan biru. Bagian bawah tiang utama terdapat umpak berbentuk segi delapan yang semakin ke atas semakin mengecil. Umpak ini dihiasi dengan tempelan tegel keramik.


Tiang-tiang yang mengelilingi tiang utama terbuat dari kayu. Diameter tiang-tiang tersebut adalah 0,70 meter dan berbentuk segi delapan. Pada bagian bawah tiang terdapat lubang persegi berukuran 0,15 x 0,1 meter yang merupakan bekas lubang balok penyangga lantai.

Mihrab Masjid Tamiang Hilir mempunyai denah persegi dan berukuran 1,62 x 2,62 x 2,11 meter. Mihrab Masjid Tamiang Hilir mengarah ke 64o dari titik utara. Hiasan pada mihrab berupa roster dan tempelan tegel keramik.

Mimbar Masjid Tamiang Hilir berukuran 1,60 x 1,60 x 1,35 meter. Mimbar ini tidak mempun­yai tubuh dan atap. Pada bagian kaki mimbar terdapat tangga yang terdiri dari tiga buah anak tangga yang dilengkapi oleh pipi tangga. Hiasan pada mimbar berupa tempelan tegel keramik.


Atap Masjid Tamiang Hilir berbentuk tumpang yang terdiri dari dua susun. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka tetapi sudah tidak terpasang lagi. Mustaka terbuat dari batu andesit. Bentuk mustaka secara keseluruhan sudah tidak diketahui lagi, tapi bagian umpaknya berbentuk bulat pipih dengan diameter 0,45 meter dan tebal 0,15 meter.


6. Masjid Lempur Tengah

Masjid Lempur Tengah berupa bangunan panggung, tetapi bagian kolongnya sudah ditutup dinding bata setinggi 0,40 meter. Denah Masjid Lempur Tengah berbentuk bujursangkar dengan ukuran 12 x 12 meter.


Untuk memasuki ruang utama masjid digunakan tangga naik yang memiliki tiga buah anak tangga. Pada sisi kiri dan kanan tangga terdapat pipi tangga yang mempunyai hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran. Hiasan pada pipi tangga tersebut mempunyai warna hijau, merah, kuning, dan putih.


Masjid Lempur Tengah mempunyai sebuah pintu masuk. Pintu ini memiliki dua buah daun pintu dengan ukuran 6,45 x 12,50 meter. Bahan dasar pintu adalah kayu. Pada bagian atas pintu masuk terdapat hiasan berupa ukiran kayu yang bermotif sulur-suluran. Hiasan ini diberi warna merah, hijau, kuning, biru, dan putih.


Dinding tubuh masjid terbuat dari bahan kayu. Pada dinding tersebut terdapat baluster yang berjajar yang berfungsi sebagai ventilasi. Ventilasi ini diberi warna hijau, kuning, merah, dan biru. Pada setiap sudut dinding bagian luar terdapat hiasan yang bermotif sulur-suluran berwarna hijau, kuning, dan merah.


Pada ruang utama masjid terdapat 12 buah tiang yang berfungsi sebagai penyangga atap. Berdasarkan keletakannya tiang-tiang tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berjumlah empat buah terletak di bagian tengah ruang utama. Kelompok II berjumlah delapan buah terletak mengelilingi tiang-tiang kelompok I.


Secara keseluruhan tiang-tiang pada ruang utama masjid mempunyai bentuk segi delapan. Diamater tiang kelompok I adalah 0,53 meter; sedangkan diameter tiang kelompok II adalah 0,35 meter. Hiasan pada tiang kelompok I berupa ukiran bermotif sulur-suluran dan tali. Tiang kelompok II tidak mempunyai hiasan tetapi diantara tiang-tiang kelompok ini terdapat ukiran yang bermotif sulur-suluran. Secara keseluruhan hiasan-hiasan tersebut mempunyai warna merah, kuning, hijau, biru, dan putih.


Mihrab masjid mempunyai denah segi empat dan berukuran 1,50 x 0,32 meter. Arah hadap mihrab adalah 64o dari titik utara. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihiasi dengan ukiran bermotif sulur-suluran dan flora.

Atap masjid berupa atap tumpang yang berjumlah 2 susun. Pada bagian puncaknya terdapat mustaka yang berbentuk gada dengan lapik yang berbentuk bulat pipih.


7. Masjid Lempur Mudik

Pondasi Masjid Lempur Mudik berukuran 11 x 11 meter. Untuk menuju ruang utama masjid melalui tangga naik, yang mempunyai tiga buah anak tangga serta pipi tangga di sisi kiri dan ka­nannya. Pintu masuk masjid berjumlah satu buah dan mempunyai dua buah daun pintu. Bahan pintu terbuat dari kayu dengan ukuran 1,72 x 1,45 meter. Pada bingkai pintu terdapat hiasan berupa ukiran dengan motif sulur-suluran demikian juga pada bagian atas pintu. Hiasan ini berwarna kuning, hijau, putih dan merah.


Pada dinding masjid terdapat hiasan berupa ukiran dengan motif flora, tali, dan medalion. Selain itu terdapat hiasan berupa baluster yang juga berfungsi sebagai ventilasi. Hiasan-hiasan tersebut mempunyai warna hijau, merah, kuning, biru, dan putih. Pada setiap sudut dinding bagian luar terdapat hiasan sudut berupa ukiran dengan motif sulur-suluran dan flora.


Pada bagian dalam ruang utama masjid terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga atap. Berdasarkan keletakannya tiang-tiang tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berjumlah empat buah terletak di bagian tengah ruang utama mesjid. Kelompok II berjumlah 12 buah terletak mengelilingi tiang kelompok I.


Bentuk seluruh tiang adalah segi delapan dengan diameter tiang kelompok I 0,75 meter dan diameter tiang kelompok II 0,61 meter. Hiasan pada keseluruhan tiang berupa ukiran dengan motif tali dan sulur-suluran. Hiasan-hiasan tersebut berwarna hijau, kuning, putih, dan merah.


Mihrab Masjid Lempur Mudik mempunyai denah persegi dengan ukuran 2,0 x 2, 75 meter. Arah hadap mihrab adalah 80o dari utara. Mihrab terrsebut dihias ukiran dengan motif sulur-suluran yang diberi warna merah, kun­ing, hijau, dan putih. Pada dinding mihrab bagian luar terdapat hiasan sudut berupa ukiran dengan motif sulur-suluran.


Tempat adzan pada Masjid Lempur Mudik terletak di atas ruang utama. Tempat adzan ini berdenah persegi panjang dengan ukuran 1,60 x 1,05 meter. Pada bagian sisi-sisinya terdapat pagar keliling berupa ukiran dengan motif sulur-suluran. Pintu masuk tempat adzan ini berada di sisi timur, di mana pada bagian ini terdapat tangga yang mempunyai lebar 0,50 meter.


Mimbar Masjid Lempur Mudik mempunyai bentuk persegi panjang dengan ukuran 1,22 x 1,65 meter. Pada bagian depannya terdapat tangga naik di mana pada sisi-sisinya terdapat pipi tangga dari bahan kayu yang dihiasi oleh ukiran dengan motif sulur-suluran. Hiasan tersebut berwarna merah, kuning, hijau, dan putih.


Atap Masjid Lempur Mudik berupa atap tumpang bersusun dua. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit dan bintang.


Pembahasan

Pada dasarnya arsitektur adalah suatu yang dibangun oleh manusia sebagai suatu perlindungan demi kepentingan badannya ataupun keselamatan jiwanya (Sumintardja 1981: 3). Arsitektur sebagai hasil kebudayaan secara universal didasari oleh 6 unsur yang mempengaruhi perwujudannya, yaitu geografi, geologi, iklim, sosial budaya masyarakat, agama dan falsafah kepercayaan, serta sejarah (Oesman 1996: 5). Suatu bangunan didirikan manusia antara lain untuk menghadapi pengaruh iklim. Bentuk fisik bangunan yang ideal adalah didasarkan pada iklim setempat serta lingkungan di mana bangunan tersebut didirikan.


Dari suatu bangunan kita dapat mengetahui bagaimana manusia mengatasi lingkungannya melalui bahan-bahan yang disediakan oleh lingkungannya serta bentuk bangunannya. Karena itu sebuah bangunan dapat dianggap sebagai percerminan dari strategi adaptasi manusia di tempat yang didiaminya, lebih dari itu hal ini juga mencerminkan tingkat teknologi dari manusia yang mendiaminya (Trigger 1968: 56-57).


Berdasarkan uraian-uraian ini maka dapat dilihat bahwa masyarakat Kerinci pada masa lalu telah menggunakan bahan-bahan yang dapat diperoleh di daerah itu sendiri. Meskipun beberapa bagian dari Masjid-Masjid kuno di Kerinci umumnya telah diganti dengan semen, tapi di bagian lain masih terlihat bahan dasar asli dari bangunan-bangunan tersebut. Bahan dasar asli itu adalah kayu tembesu, jenis kayu ini memang termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi serta sangat cocok untuk dijadikan bahan bangunan karena kuat dan mempunyai daya tahan yang tinggi (Wellan 1932: 91).


Kabupaten Kerinci terletak pada perbukitan yang merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Sebagai mana diketahui pegunungan ini merupakan pegunungan patahan dari rangkaian mediterania (Katili, 1970) selain itu di daerah ini terdapat Gunung Kerinci yang merupakan gunung berapi. Karena itu Kabupaten Kerinci merupakan daerah yang rawan gempa baik tektonik maupun vulkanik.


Bangunan masjid-masjid kuno di Kabupaten Kerinci pada awalnya merupakan bangunan panggung, hal ini terlihat dari lubang-lubang persegi di bagian bawah tiang masjid yang merupakan lubang bekas penyangga balok lantai. Melihat keadaan lingkungan daerah ini seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka bentuk bangunan panggung yang terbuat dari bahan kayu mencerminkan upaya masyarakat Kerinci untuk mengatasi lingkungannya karena secara teknis mempunyai elastisitas yang baik terhadap guncangan, ulet dan mempunyai ketahan terhadap pembebanan yang tegak lurus atau sejajar dengan bangunan tersebut (Frick 1988: 55).


Secara keseluruhan bahan dasar dari atap masjid-masjid kuno di Kabupaten Kerinci adalah seng, tetapi semula bahan dasar tersebut berupa sirap atau ijuk. Penggunaan bahan-bahan tersebut sebenarnya sangat cocok untuk daerah pegunungan seperti di Kerinci. Dengan curah hujan yang di atas rata-rata dan suhu udara maksimal rata-rata 26° C maka pemilihan atap sirap atau atap ijuk lebih sesuai karena bahan dasar tersebut tahan air, dapat menahan panas dengan baik sehingga suhu udara dalam sebuah bangunan dapat tetap terjaga dan tahan lama (Frick 1988: 69). Penggantian bahan atap dengan bahan lain karena sirap atau ijuk saat ini sulit didapat, sehingga masyarakat memilih seng sebagai penggantinya karena mudah didapat dan murah.


Penutup

Salah satu faktor yang menentukan pola pemukiman adalah bangunan atau struktur. Melalui penelitian terhadap suatu bangunan maka dapat ditelusuri hubungan sejarah antara kelompok-kelompok individu. Pendekatan ekologi dalam studi pola pemukiman merupakan dasar asumsi bahwa pola pemukiman merupakan hasil interaksi antara lingkungan dan teknologi (Trigger 1968). Dalam hal ini penelitian terhadap arsitektur masjid-masjid kuno di Kabupaten Kerinci merupakan usaha untuk merekonstruksi kembali pola pemukiman di wilayah tersebut dengan menggunakan pendekatan ekologi.


Dari pembahasan-pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masjid sebagai bangunan keagamaan merupakan salah satu unsur dari suatu pemukiman karena itu masjid-masjid kuno di Kabupaten Kerinci merupakan perwujudan dari strategi adaptasi masyarakat setempat terhadap lingkungannya. Pemilihan bentuk dan bahan dari masjid-masjid tersebut menunjukkan tingkat teknologi masyarakat Kerinci dalam usaha mengatasi lingkungan daerah ini yang rawan gempa dan bersuhu rendah. Untuk mengatasi lingkungannya tersebut, masyarakat Daerah Kerinci pada masa lalu mendirikan bangunannya dengan bentuk panggung dan berbahan kayu. Selain itu masyarakat daerah tersebut juga memilih bahan sirap atau ijuk sebagai usaha adaptasi terhadap daerah Kerinci yang beriklim tropik lembab dengan suhu rata-rata 26°C serta bercurah hujan di atas rata-rata.


Dari hasil pengamatan terhadap bangunan-bangunan di Daerah Kerinci, umummya saat ini bentuk bangunan di daerah tersebut telah diganti sehingga tidak berbentuk panggung serta berbahan bata; sedangkan untuk atap, bahan sirap atau ijuk telah diganti juga dengan bahan seng. Perubahan ini pada dasarnya disebabkan oleh adanya anggapan pada masyarakat Kerinci bahwa bangunan yang terbuat dari bata memiliki pretise yang lebih tinggi dibanding dengan bangunan kayu. Bentuk bangunan yang memang lebih masif dan kokoh ini tentunya tidak sesuai dengan keadaan lingkungan Daerah Kerinci karena tingkat elastisitasnya yang rendah sehingga akan mudah rusak bila terjadi gempa.


Kenyataan ini terlihat pada saat saat terjadi bencana alam gempa di daerah tersebut pada bulan Oktober 1995. Sebagian besar dari dari bangunan-bangunan yang rusak dan hancur adalah bangunan-bangunan baru yang terbuat dari bata dan tidak berbentuk panggung; sedangkan bangunan panggung yang terbuat dari bahan kayu kerusakannya relatif lebih kecil.


Daftar Pustaka

Frick, Heinz, 1988 Arsitektur dan Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Katili, J A, 1970 Pengantar Geologi Umum Jilid I dan II. Bandung: Balai Pendidikan Guru.

Klerk, E A, 1904 Geografisch en Etnografisch Opstel Ovel de Landscappen Korintji, Serampas en Sungai Tenang. Batavia: Albrecht enRusche.

Mills, John Fitzmaurice, 1965 The Pergamon Dictionary of Art. Pergamon Press

Mujib dan Aryandini Novita, 1996 Laporan Penelitian Masjid-Masjid Kuna di Kerinci (tidak diterbitkan).

Mundardjito, 1994 "Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan Berdasarkan Situs kepurbakalaan di Provinsi Jambi" dalam Laporan Sementara Penelitian Arkeologi dan Geologi Provinsi Jambi (tidak diterbitkan).

Oesman, Osrifoel, 1996 "Rekonstruksi Bangunan Hunian di Situs Trowulan. Suatu Kajian terhadap Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhinya" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VIII, Cipanas, 12 - 16 Maret 1996 (in press).

Prasetyo, Bagyo, 1994 "Progress Report Penelitian Survei Prasejarah di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi" dalam Laporan Sementara Penelitian Arkeologi dan Geologi Provinsi Jambi (tidak diterbitkan).

Soekmono, 1994 "Situs-Situs Masa Klasik di Provinsi Jambi" dalam Laporan Sementara Penelitian Arkeologi dan Geologi Provinsi Jambi (tidak terbitkan).

Sumintardja, Jauhari, 1978 Kompendium Sejarah Arsitektur Jilid I. Bandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan.

Tjandrasasmita, Uka, 1994 “Laporan Survei Kepurbakalaan Islam di Provinsi Jambi” dalam Laporan Sementara Penelitian Arkeologi dan Geologi Provinsi Jambi (tidak diterbitkan).

Trigger, Bruce G, 1968 "The Determinant of Settlement Pattern" dalam Settlement Archaeology (K C Chang ed.). California: National Book Press.

Wellan, J W J, 1932 Zuid Sumatra Economisch Overzich van De Gewesten Djambi, Palembang, De Lampoensche Districten, en Bengkoelen. Holland: H. Veenman en Zonen - Wageningen.

Wiryomartono, A Bagoes P, 1995 Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Gramedia Utama.



[1] Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik dalam tulisan ini tidak dibahas karena secara keseluruhan bentuk bangunannya sudah berubah sama sekali, indikator yang menunjukkan bahwa masjid tersebut termasuk masjid kuno adalah menara masjid yang dihias oleh tegel keramik Eropa yang memiliki ragam hias yang sama seperti hiasan tegel keramik pada Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir.

[2] Penyebutan hiasan ini berdasarkan bentuknya yang menyerupai balusterr. Baluster adalah bagian dari tangga atau balkon yang terbuat dari batu, kayu, logam atau terakota. Pada umumnya baluster berbentuk melengkung dan menyerupai vas (Mills 1965).


Tulisan ini telah diterbitkan di Majalah Arkeologi "Kalpataru", Puslit Arkenas 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar